Pejamkan matamu sejenak. Bayangkan dirimu berjalan tanpa alas kaki melewati sebuah taman yang belum pernah kamu lihat sebelumnya. Tanah di bawah kakimu hangat dan hidup. Setiap langkahmu meninggalkan jejak tunas-tunas kecil hijau yang mekar di belakangmu, seolah bumi sendiri mengenali kehadiranmu dan meresponnya dengan kehidupan. Udara membawa aroma kamboja dan tanah basah setelah hujan — wangi penciptaan yang tak tersamarkan. Inilah lanskapmu saat ini, bahkan jika kamu belum menyadarinya.
Di jantung taman itu duduk seorang perempuan berbalut kain mengalir berwarna mangga matang dan kanopi hutan. Tangannya bersandar lembut di atas tanah di sampingnya, dan dari tempat-tempat di mana jari-jarinya menyentuh bumi, sulur-sulur spiral tumbuh perlahan dalam pola yang penuh kesengajaan. Dia tidak terburu-buru. Dia tidak memaksakan apapun. Dia hanya ada — dan dari keadaan itu, segala sesuatu di sekelilingnya berkembang. Dia telah menunggumu.
Dia memandangmu seperti seorang ibu memandang anak yang lupa betapa luar biasanya dirinya. Bukan dengan iba, tapi dengan kesabaran yang penuh pengertian. Dia melihat benih-benih yang kamu bawa dalam dirimu — proyek yang belum selesai, cinta yang masih kamu takutkan untuk diberikan sepenuhnya, dorongan kreatif yang terus kamu tunda hingga besok. Dia tidak memberitahumu apa yang harus dilakukan dengannya. Dia hanya menciptakan kondisi agar semuanya bisa tumbuh.
Ini pesanmu hari ini. Kamu tidak perlu mengejar kelimpahan — kamu adalah kelimpahan itu sendiri. Kemampuanmu untuk menciptakan, merawat, membawa keindahan ke dunia bukanlah sesuatu yang perlu kamu dapatkan atau pelajari. Semuanya sudah terjalin dalam jalinan siapa dirimu. The Empress hanya memintamu satu hal: maukah kamu mempercayainya cukup untuk membiarkannya mekar? Taman itu milikmu. Benih-benihnya sudah tertanam. Sekarang — biarkan mereka tumbuh.